Jumat, 30 September 2011

'Shine All Stars'

'Suara Hati Anak Negeri'

Teringat aku akan kampung halaman yang telah ku tinggal kan tiga tahun yang lalu tempatku dilahirkan dan dibesarkan oleh ayah bunda tercinta. Tempat kami bermain dan bercanda. Ya… di dusun bernama “ NEGERI SELEBAR DAUN”.
Masyarakatnya hidup penuh kedamaian dan saling bahu membahu membangun negeri. Aku ingat betul ketika bapak mengajakku pergi Bow 1  di rumah Tuo Luo2.
Kami bekerja sama menanam padi silih berganti di sawah milik warga desa ku, tak seperti di kota ini tempat aku menuntut ilmu. Semua orang seakan tak peduli dengan sesamanya.
Kampung yang ku tinggalkan tiga tahun yang lalu adalah sebuah dusun kecil yang kata pujangga sebuah negeri hembusan arwah cinta dari sang pencipta “Negeri Sekepal Tanah Surga yang Tercampak ke bumi” (Gazali Burhan Riodja) dan itu benar adanya sebab aku telah merasakannya. Alamnya subur dengan udara yang sejuk telah memberi nafas kehidupan bagi warga desa kami. Sawah – sawah terbentang hijau menguning bak permadani yang di batasi oleh bukit – bukit di bawah cakrawala karya sang ilahi. Air jernih mengalir dari hilir ke muara menyejukan jiwa raga berjuta umat manusia. Pucuk – pucuk kasiavera merah kemilau melambai di hembus sang bayu. Burung – burung bebas berterbangan seperti anak – anak negri yang bebas berlari, menyanyi dan menari. Warga desa ku adalah masyarakat yang memegang teguh ajaran – ajaran agama. Aku ingat betul ketika senja tiba anak – anak negri berjalan bersuluh obor bergegas menuju surau kecil bernama ”Darul Ulum”. Di surau itu kami belajar mengaji dan sembahyang memuji sang ilahi.
Dusun kecilku Negri Selebar Daun adalah alam yang terkembang tempat anak – anak negri berguru. Kami belajar pada alam karena alam adalah sahabat kami.       
Kampung kecilku adalah negri yang telah ku tinggalkan tiga tahun lalu. Teringat aku pada nenek yang mengajarkan kami untuk mengabdi kepada alam. Sebab kata nenek alam dan segala isinya bukanlah warisan untuk kita tapi alam adalah titipan dari anak cucu kita. Begitu ia ajarkan kami untuk melestarikan alam. Nenek juga mengajarkan kami menanam pohon – pohon kehidupan. Sebab katanya menanam sebatang pohon berarti menyelamatkan satu generasi, sedangkan menebang sebatang pohon tanpa mengganti tanaman yang baru itu berarti menghancurkan satu generasi. Sebuah pelajaran yang tak pernah lekang dari ingatanku yang membuatku semakin rindu ingin segera pulang ke kampung halamanku. Teringat aku pula pada sahabatku Hadi yang riang meniup seruling di punggung kerbau gembalaannya. Ia dendangkan lagu Tumbuk Panano lagu kebanggaan kami anak – anak negri ini. Semua kenangan itu melekat dalam ingatanku. Serasa begitu lama roda waktu ini berputar akhirnya saat yang kunanti – nanti datang juga kin Ujian Akhir Nasional telah usai aku ingin segera pulang ke kampung halaman yang menyimpan berjuta kenangan dalam hidupku.
Bus Safa Marwa berlalu menuju batas waktu. Terasa lama sekali roda waktu ini berputar, terasa sesak dan pengap aku duduk pada bangku di belakang pak supir. Cuaca serasa gerah sekali sesekali mobil itu terseok dan terguncang melewati jalan raya yang memang penuh lubang dan berlumpur. Mungkin telah terlalu lelah menerima beban tertimpa mobil berat pengangkut barang.
Sejurus kondektur berteriak ”Penumpang yang turun di Ranoh Kincai agar bersiap - siap!” Bergegas aku turun dari bus itu keringat deras mengalir membasuh tubuhku. Aku terus berjalan, terlihat lihat kampung yang ku tinggalkan dulu kini telah jauh berubah. Gedung – gedung terlihat megah berdiri di atas padang rumput tempat kami bermain dulu. Ku lalui jalan setapak menuju kampungku tak mampu aku menahan rindu pada Ayah Bundaku, nenekku, dan warga desa yang begitu ramah. Tapi mengapa semua orang yang lalu lalang seakan tak mengenaliku lagii?
Akhirnya sampai juga ku di rumah. Sungguh bahagia yang tak sanggup ku ungkapkan dengan kata – kata. Kini,dua hari sudah aku berada di kampung halaman yang telah ku tinggalkan tiga tahun lalu. Tapi mengapa semuanya berubah? Tak seperti dulu lagi. Dulu udara terasa sangat segar ku hirup, namun sekarang kabut asap menyelimuti negri ini serasa sesak di dada. Kulihat sungai di belakang rumah yang dulu tempat kami mandi di tepian. Airnya jernih mengalir. Sekarang airnya keruh tinggal semata kaki membuatku semakin terperangah.
Ku dengar pula cerita dua minggu yang lalu air sungai ini meluap. Bencana banjir bandang menelan korban jiwa dan meluluh lantakkan harta penduduk desa di hulu sungai desa ini. Ya Tuhan… dosa apa yang telah kami perbuat hingga kami menderita karnanya. Pohon – pohon rindang kini gersang bagai gurun tandus. Dari kejauhan kudengar raung mesin chain saw5 menumbangkan pohon – pohon tua, tumbangkan pohon – pohon muda, dan mengorbankan spesies yang ada di dalamnya. Di padang rumput hijau tempat kami bermain dulu kini berdiri gedung – gedung tinggi.
Bulldozer begitu serakah mengamuk mengeruk perut bumi negri ini. Tak ada lagi burung murai batu yang berkicau di pagi hari. Tak seperti dulu ketika ku lihat burung itu berterbangan kian kemari seakan mengucapkan salam kepada kami.
Dalam batinku aku tersentak mengapa semua keindahan yang dulu ku nikmati terlalu cepat berubah? Mengapa orang – orang kota yang katanya pintar tega membohongi anak – anak negri ini? Siapa yang salah? Apakah warga desaku yang tak pintar dan gampang di bohongi? Ataukah memang mereka bertopeng dewa yang seakan ingin membantu warga desaku yang tega berbuat nista. Berkedok pembangunan. Mereka menyiksa saudaraku.
Atau…?  ah… aku tak sanggup menjawab semua itu.
Kini tak terdengar lagi bunyi seruling gembala mengalun menyanyikan lagu – lagu daerah yang di dendangkan kawan – kawanku dulu. Sebab bila malam tiba hiruk pikuk dentuman musik – musik keras. Warga desaku hidup ala barat bernyanyi lagu barat yang mereka sendiri pun tak mengerti artinya. Di selingi minuman beralkohol di bawah lampu kerlap – kerlip. Ah… hancur sudah hati ini. Pembabatan hutan yang telah menyebabkan banjir. Pembakaran hutan yang telah membuat asap tebal. Bukit – bukit yang berjajar memagari negri kami ini berangsur hilang hanya untuk memenuhi keserakahan orang - orang kota. Masyarakat yang terpinggirkan kini hanya menanggung derita. Mereka terjangkit penyakit ispa dan penyakit kulit yang tak terobati.
Ah… orang kecil juga yang menanggung derita.
Satu malam aku bertemu dengan kawan – kawan lamaku.
Suci yang kini telah memomong seorang anak, bayinya kurus dan dekil. Hadi sang Gembala yang dulu gesit dan lincah meniup seruling kini bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan kayu. Diva sang juara mengaji di surau dulu tubuhnya ceking, ia bekerja sebagai buruh tambang. Ah… mengapa mereka di perbudak di negrinya sendiri. Dateung 3 yang dulu sering memberikan aku goreng pisang dan ketan kini tinggal di pondok reot, karena rumahnya di gusur dengan alasan pembangunan.
Lengkap sudah derita masyarakat desaku mereka tak mampu berkutik sedikit pun. Jadilah malam itu sebuah reuni sahabat lama yang penuh keharuan.
Berjuta cerita dan duka telah dipundakan pada sebuah harapan cerita masa silam. Ya… takkan ku biarkan negri ini berselimut duka. Hati berselimut galau, amarah dan dendam bercampur benci berkecambuk membakar semangat dalam jiwa. Aku harus bertindak mulai dari sekarang! Mulai detik ini!
Tanpa terasa malam panjang yang kami lalui berbuah tekat dan keyakinan.
Inilah saatnya segala pelajaran yang kudapatkan dari nenekku, ayah bundaku, dari alam yang banyak mengajarkan aku, dan dari guru – guruku yang ikhlas mendidikku. pelita itu terang benderang bak api yang tak kunjung padam membakar semangatku.
Di desa ini aku di lahirkan.
Di desa ini aku di besarkan.
Di desa ini aku mengabdi.
Kembalikan alamku.
Kembalikan kerukunan negriku.
Kembalikan adat dan budaya yang menjadi pegangan hidup.
Negri ini harus berpegan pada kebenaran.
Dan aku yakin kemurkaan pasti musnah.
Itulah sebuah harapan yang ingin wujudkan negri ini.
Ayam jantan sahut – sahutan membangunkan tidurku. Dari surau kecil itu sayut terdengar panggilan adzan. Bergegas kami kesana dan di tempat ini kami memulai segalanya. Hingga matahari pagi terbit dari ufuk timur.
Tuhan…
Dalam sujudku ku senandungkan do’a.
Sinarilah hati kami seperti engkau sinari suasana pagi ini dengan sinar mentarimu.
Bimbinglah kejalan kebenaran, jalan yang engkau ridhoi
Amin…


Di sebuah bangunan kecil suasananya asri terlihat sekelompok orang sibuk bekerja. Pada kursi bambu terlihat Chicy tengah bercengkrama dengan kawan lamanya.hampir disetiap dinding ruangan ini terpampang foto dan piagam,disudut ruangan ada sebuah almari kecil berisi piala dan tropi. Ini adalah sebuah rumah kecil tempat orang-orang muda kreatif berkumpul.didepan bangunan ini terpampang papan nama bertulis”RUMAH KITA – NEGERI SELEBAR DAUN”
Chicy menarik nafas lega.kerja keras yang telah ia lakukan setahun yang lalu kini telah berbuah hasil alam desanya kini mulai menhijau anak negri telah kembali hidup seperti dulu semangat kebersamaan telah mulai tumbuh,masyarakatnya telah mulai peduli pada alam dan lingkungan mereka telah berani menyatakan kebenaran. Bersama pemerintah mereka bahu-membahu menata kehidupan yang baru.
Chicy adalah salah seorang sosok anak negri pahlawan pembangunan kampung halamanya. Dalam setiap mafas hidupnya adalah do’a untuk negri tercinta.
“Lestari alamku,lestari hutanku,lestari negri ku,lestari lah bangsaku”




















Secuil harapan:
Masih bisakah aku menghirup segarnya udara dengan wanginya bau kasiavera dan bunga – bunga. Masih bisakah aku membasuh dahaga dari bening air sungai yang mengalir dari hulu sungai ini. Masih bisakah aku merasakan nikmat dan hangatnya goreng pisang dan ketan berbungkus daun pisang. Masih bisakah ku dengar alunan seruling gembala tembangkan lagu – lagu rindu dan mendengar kicau burung murai di pagi hari.
Semoga…

Cerita ini kupersembahkan kepada:

Ayah bundaku yang telah mendidik dan membesarkan aku. Do’a mu adalah nafas hidupku.
Ibu guru dan bapak guru pelita hidupku. Jasamu tiada tara.
Kakakku pembakar semangat hidupku.
Sahabatku yang selalu menyemangatiku.

Catatan Kaki:
  1. Bow = Andein : Gotong Royong
  2. Tuo Luo : Kakak tertua laki – laki dari ibu
  3. Dateung : Kakak / Adik dari bapak
  4. Tumbuk Punano : Judul Lagu Daerah
  5. Chain Saw : Mesin Gergaji Besi

Created : Nurhuda Fitri

Shine girls.. :D

'Postingan Pertama d'shine'
:D